Kilas Info Global

Amnesty International: Rusia mungkin perlahan membunuh Navalny

Paris (RADAR CIANGSANA) – Alexei Navalny, lawan utama Presiden Rusia Vladimir Putin, berada di penjara dalam kondisi yang menyiksa dan situasi mungkin perlahan membunuhnya, kata kelompok hak asasi manusia Amnesty International, Rabu.

Amnesty International mengatakan Navalny, yang diracun tahun lalu dengan zat saraf tingkat militer, sekarang kurang tidur dan tidak memiliki akses ke dokter yang dapat diandalkan di penjara.

“Rusia, pihak berwenang Rusia, mungkin menempatkannya dalam situasi kematian yang lambat dan berusaha menyembunyikan apa yang terjadi padanya,” kata Agnes Callamard, sekretaris jenderal Amnesty International, kepada Reuters menjelang publikasi laporan tahunan kelompok itu.

“Jelas otoritas Rusia melanggar hak mereka. Kami harus berbuat lebih banyak,” katanya. “(Mereka) mencoba membunuhnya, mereka sekarang menahannya, dan mempersulit Navalny di penjara sama saja dengan penyiksaan.”

Navalny melakukan mogok makan minggu lalu dalam upaya untuk memaksa otoritas penjara menahannya di luar Moskow untuk memberikan perawatan medis yang tepat untuk nyeri akut di punggung dan kakinya.

Kremlin menolak mengomentari kesehatan Navalny, dengan mengatakan itu adalah masalah layanan penjara federal. Layanan penjara minggu lalu mengatakan pria berusia 44 tahun itu menerima semua perawatan yang diperlukan.

Navalny dipenjara pada Februari selama dua setengah tahun karena pelanggaran pembebasan bersyarat.

Penahanan tersebut diyakini Navalny memiliki motif politik.

Moskow, yang meragukan keracunan Navalny, menggambarkan Navalny sebagai pembuat onar yang didukung Barat yang bertekad untuk menggoyahkan Rusia.

Callamard mengatakan penganiayaan Navalny terjadi pada saat pandemi COVID-19 yang telah memperburuk ketidaksetaraan dan meningkatkan represi yang disponsori negara.

Pemerintah tertentu telah menjadikan pandemi sebagai alat untuk menekan perbedaan pendapat dan hak asasi manusia terhadap kelompok minoritas.

Sementara di negara lain telah terjadi tindakan darurat mendekati normalisasi yang membatasi kebebasan sipil, tambahnya.

“COVID telah memperkuat penindasan,” kata Callamard.

Sumber: Reuters

Penerjemah: Azis Kurmala
Editor: Atman Ahdiat
REPOST BY RADAR CIANGSANA 2021

Sumber

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button