Keagamaan

Berkenalan dengan Yusef Lateef, Pemusik Jazz Muslim yang Mendunia

Dua dedengkot musisi jazz dunia pernah naik panggung bersama. Satu adalah pianis legendaris Ahmad Jamal dan yang satu adalah kampiun musik flute dunia, Yusuf Lateef, tampil satu panggung. Keduanya bermain bersama Mariac Jazz.

Yusef Lateef adalah pemain flute legendaris dalam dunia jazz. Selain musisi adalah pendidik, seniman seni rupa dan filsuf. Beberapa penghargaan telah diraihnya. Salah satunya adalah penghargaan musik bergengsi Grammy Award 1987 kategori Best New Age untuk komposisinya Yusef Lateef’s Little Symphony. Lateef juga dikenal sebagai salah satu pelopor adanya flute dalam instrumen jazz. Antara 50 hingga 60an, Lateef pun dikenal dengan permainan oboe-nya yang sulit tertandingi. Master alat musik tiup ini tidak hanya saksofon tetapi lain seruling bambu, shenai (India), Arghul (Arab), shofar (Ibrani) serta seruling Fulani dari Afrika Barat.

Dalam bermusik ia mengeksplorasi berbagai instrumen eksotik dunia. “Dalam setiap komposisinya, Lateef melibatkan segmen panjang yang merupakan kombinasi pengaruh musik klasik, impresionis, irama Timur Tengah, atau ritem Amerika Latin” demikian tulis Leonard Feather pada 1975, seorang pianis jazz, komposer, dan produser, dan jurnalisme musik terkenal.

Yusef menyebut musiknya dengan istilah “autophysiopsychic music,”atau musik yang datang dari diri fisik, mental dan spiritual. Yusef seperti musisi jazz lainnya tidak mau menyebut karya-karyanya bergenre jazz.

Bernama asli William Emanuel Huddleston, lahir 9 April 1920 di Chattanooga, Tennessee. Namanya berganti menjadi Yusef Lateef sejak memeluk Islam pada 1950, dia memeluk Islam. Sejak kecil Lateef sudah dekat dengan dunia musik. Ibunya adalah seorang pemain piano dan keluarganya sangat mencintai musik. Ketika remaja dia kerap bergabung dengan sejumlah musisi jazz di Detroit.

Pada tahun 1950 di Detroit mulai belajar komposisi dan flute di Wayne State University. Kerier musiknya mulai menanjak. Antara 1955 hingga 1959, memimpin kwintet dengan anggota Curtis Fuller, Hugh Lawson, Louis Hayes dan Ernie Farrell.

Pada tahun 1958 ia mulai belajar oboe dengan Ronald Odemark dari Detroit Symphony Orchestra. Saat kembali ke New York pada tahun 1960, Lateef melanjutkan studi lebih lanjut dalam flute dengan Harold Jones dan John Wummer di Manhattan School of Music. Dari sini ia menerima gelar Sarjana Musik pada tahun 1969 dan gelar Master dalam pendidikan musik pada tahun 1970.

Setahun kemudian mengajar mata kuliah autofisiopsikis di almamaternya ini. Tercatat pula dari Agustus 1981 sampai Agustus 1985, Dr. Lateef adalah peneliti senior di Pusat Kajian Budaya Nigeria di Universitas Ahmadu Bello di Zaria, Nigeria, di mana dia melakukan penelitian tentang seruling Fulani.

Kampiun flute dunia pertama kali mulai merekam dengan namanya sendiri pada tahun 1956 untuk Savoy Records. Rekaman “Love Theme from Spartacus” dan “Morning” yang ada pada rekaman awalnya diputar terus hingga hari ini. Puluhan Album telah ia keluarkan. Salah satu masterpiecenya adalah Yusef Lateef’s Little Symphony yang mendapatkan Grammy Award untuk kategori Best New Age Album

Selain bermain dan menciptakan sejumlah komposisi musik, Yusef Lateef juga menerbitkan kumpulan cerita pendek Spheres dan Rain Shapes, dan sepasang novella berjudul A Night in the Garden of Love dan Another Avenue. Autobiografinya, “The Gentle Giant” ditulisnya bersama Herb Boyd.

Pada 23 Desember 2013 legenda jazz dunia ini wafat pada usia 93 tahun di rumahnya di Shutesbury, Massachussets. Tokoh islam Ahmadiyah Amerika meninggalkan seorang istri, Ayesha Lateef dan putranya Yusef, seorang cucu perempuan dan beberapa cicit.

Source link

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button