Berita

Disperindag kasus sate beracun: sianida tidak dijual bebas

Yogyakarta, Radar Ciangsana –

Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memastikan kalium sianida (KCN) atau bahan berbahaya yang ditemukan dalam kasus sate beracun di Bantul tidak diperdagangkan secara bebas.

Dugaan awal materi berupa garam kristal putih diperoleh melalui jalur ilegal. Yanto Aprianto, Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian Disperindag DIY, mengatakan distribusi barang yang dianggap berbahaya selalu dikontrol.

“Untuk bahan berbahaya di Dinas Perindustrian dan Perdagangan, pembelian bahan harus menggunakan rekomendasi dari kami. Jadi tidak leluasa berdagang,” kata Yanto saat dihubungi, Selasa (4/5).

Yanto mencontohkan penggunaan formaldehyde untuk keperluan medis. Fasilitas pelayanan kesehatan sesuai prosedur wajib mengajukan permohonan pengadaan barang tersebut ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan.

“Kemudian diberikan persetujuan untuk melakukan pembelian. Dan itu juga dengan syarat harus melapor ke instansi terkait penggunaan bahan berbahaya tersebut,” tambah Yanto.

Mereka yang telah mendapatkan surat rekomendasi dari Disperindag hanya akan memiliki akses ke barang-barang tersebut setelahnya.

“Jadi kami lapor secara rutin ke Disperindag. Dari pengecer dan penjual selalu kami laporkan. Kami terus mencatat itu. Fungsi penggunaannya tercatat dan dari pengecer. Nanti akan dicatat,” kata Yanto.

Prosedur ini, menurut Yanto, sesuai dengan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 75 / MDag / Per / 10/2014 tentang pengawasan peredaran bahan berbahaya. Termasuk semua jenis sianida di dalamnya.

“Sianida jenis ini tidak tersedia dan tidak boleh diperdagangkan oleh distributor atau pengecer dalam bentuk kemasan terkecil. Distributor dan pengecer tidak menjual dalam kemasan terkecil,” jelasnya.

Karena itu, Yanto menegaskan akan memperketat izin peredaran sianida. Jadi, dia juga menduga kalium sianida dalam kasus sate beracun di Bantul diperoleh melalui pasar gelap.

Bisa juga seperti itu. Bukan dari kita, karena seperti Yogyakarta (DIY) masuknya dari berbagai tempat ya? Ambil contoh seperti formaldehida, kebanyakan dari batas kota, ”ujarnya.

Apalagi menurut catatan Disperindag, selama ini potasium sianida sangat-sangat jarang masuk dalam daftar aplikasi untuk pemasaran.

“Untuk itu jarang kami keluarkan. Permintaan formaldehida banyak. Pewarna dan formalin sedang laris,” kata Yanto.

Namun dengan kasus ini, pihaknya juga menjamin pengawasan Disperindag tidak pernah kendor selama ini. Koordinasi dilakukan dengan BPOM.

Selain itu, kami juga mengawasi bahan berbahaya yang digunakan untuk bahan pangan. Jangan sampai membahayakan masyarakat, kata Yanto.

[Gambas:Video CNN]

(kum / usia)


Sumber

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button