Kilas Info Daerah

DPR RI Ajak Petani Menerapkan Pertanian Berbasis Semesta

Keterangan: Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi



Media Digital Bogor

BOGORnews.com ::: Purwakarta : Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi mengajak petani untuk menerapkan pertanian berbasis universal yaitu pertanian yang menempatkan alam sebagai sumber energi.
Hal tersebut disampaikannya dalam pembukaan Bimbingan Teknis Penyuluh Petani di Kabupaten Purwakarta, Balai Koordinasi Pengelolaan dan Pembinaan Kepemimpinan (PPMKP) Pertanian Ciawi Bogor di Purwakarta, Kamis (5/3/2021).
Dedi mengatakan, pertanian berbasis alam semesta tidak boleh diintervensi oleh kimia, artinya menekankan pada asal mula penciptaan manusia. Dan cikal bakal bumi. Akan lahir penelitian tanah, air, udara dan kemudian menempatkan manusia untuk memahami pertanian bukan sebagai sumber eksploitasi tetapi sebagai sumber harmoni, makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan.

“Pertanian itu untuk membangun keharmonisan antara manusia dan alam, sehingga tidak boleh merusaknya. Sistemnya itulah, maka lahirlah sistem pertanian untuk kesehatan, sistem tata ruang dan kemudian sistem bangunan. Jadi pertanian tidak berdiri sendiri, itu adalah sebuah sistem, “katanya.

Untuk itu, kata Dedi, materi dalam bimbingan teknis cukup fokus pada pengolahan pupuk organik atau UPPO. Dedi menuturkan, dunia pertanian modern menjanjikan masa depan, yang menyehatkan manusia adalah pertanian yang hidup dan saling memberi kehidupan. Di dalam tanah hidup cacing dan mikroorganisme lain yang hidupnya harus dijaga dengan tidak mengganggu tempat hidupnya.
Pertanian organik dianggap lebih murah karena semuanya sudah tersedia di alam. Pupuk dapat dihasilkan dari kotoran sapi yang dipelihara, yang memberikan perlindungan bagi cacing dan mikroorganisme lainnya serta menggunakan jerami.

“Penggunaan pupuk organik dapat membuat petani mandiri. Hal ini karena filosofi dasar dari pupuk organik adalah petani mampu membuat sendiri pupuk dengan mengagungkan unsur-unsur kehidupan tanah, mulai dari cacing, belut dan berbagai mikroorganisme yang ada di dalamnya,” ujarnya. kata.

Pola pertanian organik ini, kata Dedi, meski petani hanya memiliki lahan sempit, misalnya seperempat atau setengah hektar, namun terbukti berhasil membangun kemandirian petani. Menurutnya, pengalaman ini sudah ditunjukkan oleh orang tua kita dulu.

“Dulu orang tua kami hanya punya seperempat hektar sawah dan tiga ekor sapi, tapi dia mampu membangun siklus ekonomi agar anaknya bisa bersekolah, padahal saat itu belum ada tunjangan sekolah. Ini disebut kemandirian petani, ”ujarnya.

Idealnya, setiap petani yang memiliki lahan di bawah satu hektar diberi seekor sapi. Sehingga ia bisa bertani dengan memanfaatkan sapi-sapi tersebut, khususnya untuk pupuk. Dengan demikian, meski lahan sempit, ia bisa menghasilkan produksi beras yang sehat.

Dalam kesempatan yang sama Ketua PPMKP Yusral Tahir menegaskan bahwa pendidikan pertanian perlu dikenalkan sejak dini agar ke depan akan banyak petani muda milenial yang berpikir lebih modern dalam menjalankan kegiatan pertaniannya.

Bimbingan Teknis bagi Petani dan Penyuluh Kabupaten Purwakarta yang menitikberatkan pada materi pembuatan pupuk organik ini sejalan dengan harapan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL). Ia ingin petani mampu memproduksi pupuk organik secara mandiri, yang kualitasnya bisa lebih baik dari pupuk anorganik saat ini. Menteri Pertanian mengakui, produk pertanian nonpestisida memiliki kualitas yang lebih baik dan pasarnya bisa lebih besar.

“Pupuk organik ke depannya akan lebih menguntungkan. Petani harus bisa berproduksi sendiri,” ucapnya.

Sementara itu, Dedi Nursyamsi, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, mengajak penyuluh untuk selalu mengingatkan petani agar memaksimalkan penggunaan pupuk organik untuk meningkatkan kualitas tanaman dan kuantitas hasil.

“Perkembangan teknologi pemupukan berimbang dengan pupuk hayati / organik dapat dipelajari oleh penyuluh sehingga petani dan praktisi pertanian mulai mengenal bahkan menjadi pelaku dalam memproduksi pupuk hayati,” ujarnya. (Regi / PPMKP)


Sumber

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button