Kilas Info Daerah

Gus AMI: Masukkan Pancasila Dalam Pelajaran Wajib Sekolah

Sebagai dasar negara, Pancasila saat ini menghadapi tantangan serius.

RADARCIANGSANA.COM, JAKARTA – Wakil Ketua DPR Abdul Muhaimin Iskandar (Gus AMI) mendesak pemerintah memastikan Pancasila menjadi mata pelajaran wajib di sekolah dan kampus di tanah air. Sebagai dasar negara, Pancasila saat ini menghadapi tantangan serius berupa menurunnya penghargaan dan pengamalan anak bangsa.

“Penghayatan dan pengamalan Pancasila sebagai dasar negara harus diakui semakin hari semakin berkurang. Jadi Pancasila harus kembali menjadi mata pelajaran wajib di sekolah dan kampus di tanah air, ”ujarnya Gus AMI dalam pernyataan yang diterima Republika.co.id, Selasa (1/6).

Ketua Umum DPP PKB berharap upaya sosialisasi kembali nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara dapat dilakukan secara sistematis. Salah satunya melalui kurikulum pendidikan yang mewajibkan Pancasila sebagai mata pelajaran wajib baik di pendidikan dasar, menengah, maupun di perguruan tinggi.

“Kami mendengar informasi bahwa Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 21 tentang Standar Nasional Pendidikan yang tidak memuat Pancasila sebagai mata pelajaran wajib direvisi. Kami berharap hasil revisi segera diterbitkan dan menegaskan bahwa Pancasila adalah pelajaran wajib yang harus diikuti oleh setiap siswa. Indonesia harus ambil,” ujarnya.

Gus AMI mengatakan pasca Orde Baru ada semacam trauma bagi bangsa ini untuk melanjutkan berbagai kebijakan yang sebenarnya baik di masa lalu. Seperti upaya pembudayaan Pancasila melalui program Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) atau kewajiban setiap siswa untuk mengambil Pelajaran Moral Pancasila (PMP).

“Akibatnya, setelah hampir 20 tahun reformasi, banyak anak muda yang tidak mengenal Pancasila, sementara orang dewasa perlahan melupakannya,” katanya.

Ketua Umum PB PMII periode 1994-1997 menilai wajar jika bangsa ini mengalami trauma untuk melanjutkan kebijakan pada masa Orde Baru, termasuk pribumisasi Pancasila. Menurutnya, saat itu Pancasila digunakan sebagai alat dakwah untuk melanggengkan dominasi rezim yang sedang berkuasa.

“Siapapun yang kritis terhadap rezim yang sedang berkuasa dicap tidak Pancasilaist dan dianggap melawan negara. Maka wajar jika setelah orde baru banyak orang yang trauma dengan terminologi Pancasila. Padahal Pancasila adalah dasar negara,” katanya.

Trauma itu, lanjut Gus AMI, diungkapkan dengan berbagai cara. Mulai dari pembubaran Badan Pembinaan Pendidikan Penerapan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP7), penghapusan penataran P4, hingga tidak ada lagi pelajaran wajib Pendidikan Moral Pancasila (PMP) di sekolah. Padahal di satu sisi Pancasila masih dibutuhkan sebagai mercusuar atau pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Apalagi sekarang banyak ideologi ekstrim baik dari kanan maupun kiri yang mencoba mempengaruhi banyak anak bangsa melalui berbagai bentuk. peron media sosial. Situasi ini harus diimbangi dengan upaya untuk mengenalkan kembali nilai-nilai Pancasila kepada anak bangsa, khususnya generasi milenial,” ujarnya.

Mengutip pandangan Rais A’am PBNU KH Achmad Siddiq periode 1984-1989, Gus AMI menegaskan bahwa Pancasila sebagai ideologi bangsa tidak bertentangan dengan Islam bahkan bisa saling bahu membahu dan saling melengkapi. Menurutnya, pandangan KH Achmad Siddiq harus diingat oleh umat Islam, khususnya nadhliyin, agar tidak ada yang mencoba mengkontraskan Pancasila dengan Islam.

“Tidak ada konflik antara Pancasila dan Agama, jadi jika ada yang mencoba membantahnya jelas bukan atas dasar agama tapi karena nafsu politik kekuasaan,” ujarnya.

Selain itu, kata Gus AMI, upaya sosialisasi Pancasila harus dilakukan dengan pendekatan baru yang lebih humanis dan kekinian. Menurutnya, dengan dominasi pengaruh media sosial, informasi termasuk tentang Pancasila harus dikemas secara dialogis. menarik perhatian, dan jika perlu dengan tipu muslihat tertentu.

“Dengan demikian nilai-nilai Pancasila bisa dipahami tanpa terkesan menggurui dan mendominasi,” kata Gus AMI.

Sumber

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button