Kilas Info Nasional

Hadis yang Digunakan untuk Tujuan Buruk dan Diletakkan Bukan…

loading…

SUNNAH Nabi yang suci telah menghadapi gempuran dari para hamba pemikiran Barat. Mereka, dengan sekuat tenaga dan upaya berusaha membunuh dan mematikannya. Beragam cara mereka lakukan, dan beragam jalan mereka tempuh, untuk mencapai tujuan itu.

Ada yang berusaha mengembangkan sikap skeptis terhadap sunnah. Yaitu dengan meragukan keabsahan seluruh sunnah, atau sunnah yang terucapkan saja –dan ini adalah bentuk sunnah yang terbesar– atau juga meragukan periwayat-periwayat yang masyhur, seperti Abu Hurairah r.a.

Baca juga: Sesuai Hukum Islam, MUI Minta Vaksin Corona Penuhi Standar Halal dan Thoyyib

Ada yang berusaha meragukan keabsahan sunnah sebagai sumber hukum Islam dan pembentukan ajarannya. Mereka berkata, kita cukup berpegang kepada Al Quran saja!.

Adapula yang berusaha menghancurkan sunnah dengan sunnah sendiri. Yaitu dengan mengambil sebagian hadis dan meletakkannya bukan pada tempatnya. Kemudian dijadikan sebagai dalil bagi apa yang tidak sesuai dengan kandungan sunnah itu sendiri.

Syaikh Yusuf al Qardhawi dalam buku Sunnah Rasul: Sumber Ilmu Pengetahuan dan Peradaban diterjemahan Abdul Hayyie al Kattani dan Abduh Zulfidhar (1998) menyebutkan di antara hadis-hadis yang diletakkan bukan pada tempatnya, dan digunakan untuk tujuan yang buruk, adalah hadis masyhur yang diriwayatkan oleh Muslim dalam masalah pembuahan pohon kurma.

Hadis itu, dalam sebagian riwayat berbunyi:

“Kalian lebih tahu tentang perkara dunia kalian.” [Hadist ini diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Sahih-nya, dalam kitab Al Fadlail, dari riwayat Thalhah, Rafi’ bin Khudaij, A’isyah, dan Anas r.a. (hadist-hadist no. 2361-2363) dari Shahih Muslim, tahqiq Muhammad Fu’ad Abdul Baqy].

Baca juga: Habib Rizieq Puasa di Sel, Sahurnya Minta Dibawakan Kurma dan Cemilan

Sebagian dari mereka ada yang berusaha menafikkan adanya sistem politik dalam Islam secara total, dengan berdasarkan hanya satu hadis ini saja. Karena, menurut mereka, masalah politik, baik pokok maupun parsialnya, adalah urusan duniawi kita, maka otomatis kita lebih tahu tentangnya. Wahyu tidak mempunyai kompetensi untuk memberikan aturan dan petunjuk dalam masalah ini. Bagi mereka, Islam adalah agama tanpa negara, dan akidah tanpa syari’ah!.

Sebagian yang lain berusaha menafikan adanya sistem ekonomi dalam Islam, juga dengan bersandarkan pada satu hadis ini.

Baca juga: Uskup Agung Yunani Menghina Islam, Bilang Islam Bukan Agama

Al-Qardhawi menyatakan ada sebagian orang yang ingin menghancurkan seluruh hadis yang tercatat dalam kitab-kitab hadis, yang mengatur masalah perdagangan, mu’amalah, hubungan sosial, ekonomi dan politik hanya dengan satu hadis ini saja. “Seakan-akan Rasulullah SAW mensabdakan hadis ini untuk menasakh ‘menghapus’ seluruh sabda, perbuatan dan persetujuannya yang lain, yang tercatat sebagai hadis yang suci,” jelasnya.

Sikap ekstreem sebagian manusia ini mendorong seorang ulama besar, seperti muhaddits Syeikh Ahmad Syakir, memberikan komentar atas hadis ini, dalam Musnad Imam Ahmad [Lihat: Komentar atas hadits nomor 1395 dari kitab Musnad Ahmad, dengan tahqiq Ahmad Muhammad Syakir, cet. Daar Ma’arif.]

Ia berkata: “Hadis ini telah didengung-dengungkan oleh orang-orang atheis Mesir dan orang-orang yang terbaratkan, seperti para budak orientalis dan murid para missionaris, sebagai dalil untuk menyerang ahli sunnah dan orang-orang yang mendukung sunnah, serta orang-orang yang bergelut dalam bidang syari’ah Islam.”

“Mereka berusaha menghapus seluruh sunnah, dan mengingkari syari’ah Islam, dalam mengatur mu’amalah, tatanan sosial, dan sebagainya. Mereka berpendapat bahwa semua itu adalah urusan dunia. Dengan berdasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh Anas: ‘Kalian lebih tahu tentang urusan dunia Kalian’.

Baca juga: Kata Sri Mulyani Nih: Hampir Semua Universitas Islam Dibangun Pakai Utang Syariah

Allah SWT lebih tahu bahwa mereka tidak mempercayai pokok agama, ketuhanan dan risalah kenabian. Serta dalam diri mereka tidak mempercayai Al-Quran. Jikapun dari mereka itu ada yang beriman, maka ia hanya beriman di ujung lidahnya saja, sedangkan hatinya mengimani yang sebaliknya.

Mereka tidak beriman dengan sepenuh keyakinan, namun semata karena taklid dan takut saja. Maka jika ada suatu kandungan syari’ah Islam, Al Quran dan sunnah yang bertentangan dengan apa yang mereka pelajari di Mesir atau di Eropa, mereka tanpa ragu-ragu mengagungkan dan memihak kepada apa yang ada di Eropa.

Source link

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button