Indonesia berharap tidak akan ada senjata nuklir dalam perang Rusia-Ukraina


Saya kira Indonesia dan negara-negara dunia pada umumnya berharap konflik tersebut dapat mencapai solusi dan terhindar dari penggunaan senjata nuklir.

Jakarta (ANTARA) – Indonesia berharap senjata nuklir tidak digunakan dalam perang Rusia-Ukraina, menyusul pernyataan Presiden Rusia Vladimir Putin yang mengancam akan menggunakan senjata nuklir jika Barat terus ikut campur dalam konflik tersebut.

“Saya kira Indonesia dan negara-negara dunia pada umumnya berharap konflik tersebut dapat mencapai solusi dan menghindari penggunaan senjata nuklir,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Teuku Faizasyah dalam konferensi pers online, Kamis.

Menurut Faizasyah, dunia harus belajar dari pengalaman tentang dampak destruktif penggunaan senjata nuklir pada Perang Dunia II—agar tidak terulang dalam konflik apapun.

“Kami tidak menginginkan kerusakan yang sama seperti yang dialami masyarakat dunia di masa lalu,” katanya.

Baca juga: PM Jepang: Invasi Rusia ke Ukraina “menginjak-injak” piagam PBB

Faizasyah menjelaskan bahwa Indonesia terus mencermati perkembangan perang antara Rusia dan Ukraina, termasuk pengumuman Putin baru-baru ini tentang rencana mobilisasi militer parsial untuk membantu pasukan Rusia di medan perang.

“Indonesia mengikuti perkembangan ini karena kami memiliki perwakilan di Ukraina maupun di Rusia sehingga kami dapat menilai berbagai perkembangan terkait konflik yang terjadi sampai sejauh mana hal-hal tersebut berpotensi menyebabkan eskalasi keamanan di wilayah konflik, dan juga di lingkungan yang lebih luas,” katanya. ” dia berkata.

Faizasyah mengatakan perkembangan konflik Rusia-Ukraina akan dibahas oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi yang saat ini berada di New York untuk menghadiri Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-77, berkomunikasi dengan berbagai pihak terkait.

“Kami yakin konflik Ukraina akan menjadi salah satu topik yang akan menarik perhatian delegasi negara-negara yang kini berada di New York untuk Sidang Umum PBB,” katanya.

Selain eskalasi konflik, Majelis PBB juga diharapkan mengangkat isu krisis pangan dan energi sebagai salah satu dampak dari perang Rusia-Ukraina.

Isu tersebut sebelumnya pernah dibahas Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam kunjungan damai ke Kiev dan Moskow, akhir Juni lalu.

“Isu yang diangkat Presiden (Jokowi) ini menjadi salah satu tema yang ditindaklanjuti Sekjen PBB, sehingga terjadi pergerakan gandum dari wilayah Ukraina untuk keluar dan masuk ke pasar bebas. Jadi jika kita melihat esensi penting yang dikemukakan oleh Presiden, isu ketahanan pangan merupakan isu yang terus menerus dibahas dalam kerangka bilateral, regional, dan dalam pembahasan di Sidang Umum PBB,” kata Faizasyah.

Baca juga: Paus Fransiskus: Menganggap penggunaan senjata nuklir adalah kegilaan
Baca juga: Uni Eropa menuduh Putin menggunakan nuklir secara sembrono dalam perang melawan Ukraina

Reporter: Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Mulyo Sunyoto
HAK CIPTA © ANTARA 2022

Sumber

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button