Keagamaan

Jenazah Ini Dishalati Langsung Rasulullah di Alam Ghaib, Ada Apa Gerangan?

Rib’i bin Khirasy memiilki beberapa saudara. Ada yang menyebut tiga dan ada yang berkata empat saudara. Di antara Rib’i dan beberapa saudaranya itu, ada satu yang sangat rajin beribadah. Sebut saja namanya Fulan. Ia paling banyak melakukan shalat malam meskipun keadaan dingin dan puasa, meskipun hari sedang panas-panasnya.

Suatu ketika, setelah pulang dari sebuah perjalanan dan tiba di rumah, Rib’i mendapat kabar duka dari anggota keluarganya: Fulan sedang sakaratul maut. Oleh karenanya, Rib’i diminta untuk segera bergegas ke sana.

Tanpa pikir panjang, ia pun lanngsung menuju ke desa dimana Fulan tinggal. Sesampainya di kediaman Fulan, ternyata Fulan telah meninggal dunia. Jenazahnya sudah ditutupi dengan pakaian.  Rib’i lalu bergegas pergi untuk mencarikan kain kafan untuknya.

Pulang dari mencari kain kafan itu, ia benar-benar terkejut. Kain yang menutupi jenazah Fulan terbuka dan ia mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum…”

“Wa’alaikum salam, Apakah engkau bicara setelah meninggal dunia?” jawab para pelayat.

 “Ketahuilah, setelah berpisah dengan kalian, aku telah bertemu dengan Tuhan. Dia tidak marah. Justru Dia menyambutku dengan penuh ketentraman dan rezeki. Dia juga memberiku pakaian yang terbuat dari sutra halus dan sutra tebal” kata Fulan.

Ia juga menjelaskan bahwa dirinya sedang ditunnggu oleh Nabi Muhammad SAW, yang sudah bersiap untuk menyalatinya. Oleh karenanya, Fulan meminta para pelayat untuk mempercepat pengurusan jenazahnya (dikafani, pen). Ia juga mengatakan bahwa  hal yang sedang dia alami adalah mudah, bahkan lebih mudah daripada yang dipikirkan oleh para pelayat.

Dalam kesempatan kali itu, ia juga memberi nasihat kepada para pelayat,  “Berbuat baiklah dan jangan pernah terbuai (oleh setan)!”

Setelah itu, ia menghembuskan nafas terakhirnya dengan sangat mudah. Bahkan Rib’i menggambarkan, proses sakaratul maut yang dialami Fulan itu ibarat kerikil yang dileparkan ke dalam air. Sangat cepat dan ringan.

Kabar tentang Fulan itu akhirnya sampai kepada Aisyah, istri Nabi Muhammad SAW. Ia setuju dan membenarkan hal itu. Ia juga menceritakan hal itu, yakni aka nada salah satu umat Nabi Muhammad SAW yang berbicara setelah ia meninggal dunia.

Kisah ini disebutkan dalam kitab Hilyah al-Awliya wa Thabaqat al-Asfiya’ karya Abu Nua’im Al-Ashfahani dan ‘Uyun al-Hikayat karya Ibnu Jauzi. Apa yang dipesankan Fulan kepada para pelayat secara tidak langsung bisa menjadi nasihat kepada kita bersama, yakni salah satunya selalu berbuat baik.

Berbuat baik kepada siapapun dan kapanpun adalah anjuran agama. Perbuatan baik yang paling baik adalah yang dilakukan kepada semua orang, baik dia baik atau tidak kepada kita. Sebagaimana contoh yang teladankan oleh Nabi Muhammad SAW.

Allah SWT berfirman:

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuatbaiklah! Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah [2]: 195).

Perintah berbuat baik dalam ayat ini, bisa berupa apa saja. Antara lain, berbuat baik dengan harta benda, jabatan, atau yang lainnya; berbuat baik dengan amar ma’ruf nahi munkar; mengajarkan ilmu pengetahuan; berbuat baik kepada orang yang tidak berbuat baik kepada kita; dan lain sebagainya. Begitu penjelasan al-Sa’di dalam tafsir Taysir al-Kalam al-Rahman fii Tafsir Kalam al-Mannan.

Walhasil, sebagai seorang muslim hendaknya selalu berbuat baik kepada siapa saja dan kapan saja. Selain karena menjadi perintah agama, perbuatan yang kita kerjakan juga akan berdampak kepada diri kita, baik di dunia atau di akhirat. Wallahu a’lam.

 

 

Sumber:

Al-Ashfahani, Abu Nua’im. Hilyah al-Awliya wa Thabaqat al-Asfiya’. Beirut: Dar al-Fikr, 1996.

Al-Sa’diy, Abdurrahman bin Nashir. Taysir al-Kalam al-Rahman fii Tafsir Kalam al-Mannan. Riyadh: Dar al-Salam, 2002.

Ibn al-Jauzi, Jamaluddin Abi al-Farj bin. ’Uyun al-Hikayat. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2019.

 

Source link

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button