Keagamaan

Manusia Bertindak Syirik Saat Merusak Alam dan Lingkungan, Mengapa Anda Tidak Menyadarinya?

Melalui pendekatan interpretatif, uraian berikut menunjukkan praktik syirik oleh manusia berupa perusakan alam dan lingkungan. Selama ini, konsep syirik seringkali difokuskan pada sikap dan perilaku orang-orang yang bertuhan selain Allah. Padahal syirik memiliki berbagai arti, salah satunya syirik dalam bentuk kesombongan dan penguasaan atas ciptaan Tuhan. Makna syirik seperti ini jarang dieksplorasi lebih luas.

Dalam konsep penciptaan manusia yang diwartakan Alquran, terdapat ungkapan yang sangat penting tentang keimanan Tuhan pada manusia mengingat alasan yang Allah berikan sebagai alat penimbang baik dan buruk. Menurut Jaudat Said, potensi intelektual manusia menjadikan dirinya lebih bermartabat dan sempurna. Namun, dalam dialog ini malaikat meragukan kemampuannya itu bukan karena ketidaktahuannya melainkan karena nafsu buruk yang dimilikinya.

Itu sebabnya, keprihatinan para malaikat atas penciptaan manusia adalah keinginan mereka untuk melakukan kerusakan di bumi. Menyaksikan kerusakan lingkungan yang sangat besar yang disebabkan oleh tindakan manusia, kita diingatkan kembali oleh keraguan malaikat tentang manusia seperti yang tercatat dalam QS. al-Baqarah [2]: 30. Kasus kerusakan alam yang terjadi begitu besar hanyalah kelalaian manusia dalam menjalankan amanat kekhalifahan. Alquran mengingatkan bahwa kerusakan alam ini disebabkan ulah manusia, QS. al-Rum [30]: 41.

Ayat ini ditafsirkan oleh Ibnu Katsir sebagai kasus kekurangan tumbuhan dan tumbuhan di muka bumi ini akibat perbuatan asusila manusia. Istilah maksiat di sini diartikan sebagai pemberontakan dan kedurhakaan manusia atas perbuatan yang dilakukan (tatapan). Begitu juga dengan al-Qurtubī dan beberapa penafsir yang menafsirkan kata tersebut fasad dalam ayat tersebut sebagai tindakan syirik. Berupa penguasaan manusia atas manusia lain, penguasaan manusia atas alam dan lingkungan, perbuatan membunuh sesama, tidak adanya rasa syukur atas anugerah alam yang telah Tuhan sediakan untuk kesejahteraan manusia di muka bumi.

Keragaman makna ini berpusat pada kerusakan yang dilakukan manusia terhadap alam. Hal ini sejalan dengan Fakruddīn al-Razī yang menilai kerusakan alam bersumber dari syirik. Bentuk syirik terletak pada perbuatan manusia yang mengendalikan sesamanya. Padahal kelalaian adalah perbuatan yang tidak sesuai dengan keyakinan. Tentu, syirik atau maksiat itu bukan dari Allah, tapi dari manusia itu sendiri. Tindakan asusila ini berasal dari ucapan dan hati mereka. Jika tauhid pada diri seseorang lenyap, maka syirik akan terus beroperasi dan tertanam dalam diri manusia. Sehingga perbuatan buruk mendominasi pada manusia.

Dari semua tafsir tersebut sangat jelas, kepedulian malaikat atas perbuatan manusia hingga saat ini menunjukkan buktinya. Kerusakan alam timbul karena ulah manusia, salah satunya kerusakan lingkungan. Faktor kerusakan lingkungan ini disebabkan oleh indikasi syirik berupa kesombongan manusia dengan niat mengeksploitasi dan mengendalikan alam dan lingkungan. Arogansi manusia berupa tindakan perusakan alam merupakan salah satu bentuk perilaku syirik. Karena bagi mereka yang beriman dan bertauhid tidak mungkin melakukan kerusakan di dunia ini.

Pelestarian lingkungan adalah kata kunci dalam membangun masyarakat yang religius. Kepercayaan pada pencipta harus dimulai dari mengenal alam semesta. Itu sebabnya, kata fasad sebagaimana ditafsirkan oleh beberapa komentator, ini berarti tindakan melalaikan. Karena mereka yang merusak alam adalah penyangkalan terhadap Tuhan. Pembangkangan ini dalam istilah teologis dapat diklasifikasikan sebagai tindakan kufur ekologis.

Melestarikan alam merupakan salah satu bentuk maslahat yang merupakan salah satu bentuk keimanan. Pelakunya disebut mukmin. Dengan kata lain, keyakinan seseorang akan menjadi tidak sempurna jika tidak dibarengi dengan kepedulian terhadap lingkungan. Artinya, memperlakukan lingkungan sangat mempengaruhi keimanan seseorang.

Di QS. al-A’rāf [7]: 85 juga dijelaskan

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ

alam yang merusak dilarang. Karenanya tindakan itu membahayakan iman seseorang. Dengan menggunakan redaksi larangan dalam ayat ini, menandakan kerusakan lingkungan adalah perbuatan dosa. Tindakan dosa tidak selalu merupakan kejahatan, tetapi itu berlaku untuk hubungan pelaku dengan Tuhan. Dengan demikian, meskipun alam dan lingkungan diciptakan untuk digunakan demi kelangsungan hidup manusia, karena lingkungan adalah ciptaan Tuhan, tidak mungkin menjadi alat atau sarana yang menjadi objek eksploitasi manusia.

Dalam hal ini diperlukan kesadaran manusia yang dilandasi oleh landasan etika yang berlaku agar bijak dalam mengelola alam, agar manusia tidak terjerumus ke dalam perilaku syirik berupa perusakan lingkungan seolah-olah mereka adalah penguasa yang maha kuasa atas alam yang bersama semua. kehendak mereka berlaku sewenang-wenang di alam yang bukan ciptaan mereka tapi ciptaan Allah.[]

Sumber Bacaan

Jaudat Said, Sunan Taghyīr al-Nafs wa al-Mujtama ‘: Iqra’ wa Rabbuka al-Akrām, Beirut: Dār al-FIkr al-Mu’āsir, 1998

Ibn Kathir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzīm, Qāhirah: Maktabah Awlād al-Shaykh al-Turāts, 2000

Al-Qurtubī, Jāmi ‘li Ahkām al-Qur’an wa al-Mubayyin limā Tadammanahu min al-Sunnah wa Ayī al-Furqān, Beirut: Muassasah al-Risāah, 2006

Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Tafsir Fakhr al-Rāzī al-Musytahir bi al-Tafsīr al-Kabīr wa Mafātiḥ al-Ghaib, Damaskus: Dār al-Fikr, 1981

Sumber

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button