Kilas Info Daerah

Momen Pidato AHY-SBY Selalu Menyebut Posisi Moeldoko

AHY menyebut ‘KSP Moeldoko’ tujuh kali, sedangkan SBY menyebut 11 kali.

RADARCIANGSANA.COM, JAKARTA – Jumat (5/3) menjadi hari bersejarah bagi Partai Demokrat. Pada hari itu muncul gerakan yang membubarkan Ketua DPP Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), melalui Kongres Luar Biasa. KLB yang berlangsung di Sumatera Utara itu melantik Moeldoko, mantan Panglima TNI yang kini menjabat Kepala Kantor Staf Presiden Joko Widodo, sebagai Ketua DPP Partai Demokrat versi KLB.

Pada hari itu, Agus Yudhoyono dan ayahnya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), tiba-tiba menggelar konferensi pers. Agus menggelar jumper Jumat siang di markas baru Partai Demokrat di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, tak jauh dari kantor DPP PDIP di Jalan Diponegoro yang diserang massa pada 1996. Sementara itu, SBY selaku ketua Dewan Tinggi Partai Demokrat, menggelar jumper di kediamannya di Cikeas, Kabupaten Bogor, pada Jumat malam.

Pada dua kesempatan pidato, putra dan ayahnya menyinggung perasaannya Moeldoko secara terbuka sebagai peran dalam wabah tersebut. Dalam naskah pidato yang dibagikan kepada pers, itu direkam AHY dan SBY menyebutkan Moeldoko berkali-kali.

Pidato enam halaman AHY berjudul ‘Tutup Garis: Selamatkan Demokrat, Selamatkan Demokrasi’. Dalam pidatonya AHY menyebut Moeldoko sebanyak tujuh kali. Keseluruhan penyebutan kata tersebut ditambah dengan kata Moeldoko dengan KSP, “KSP Moeldoko”. Ia seolah mempertegas dan mengaitkan posisi Moeldoko sebagai ketua KSP yang berkedudukan di Istana Negara dengan kepindahan Moeldoko untuk menggelar KLB dan menjadi Ketua DPP Partai Demokrat versi KLB kemarin.

Seperti kutipan pertama berikut ini: “Keempat, terkait keterlibatan KSP Moeldoko yang selama ini selalu mengelak, kini sudah jelas,” bunyi teks yang dibacakan AHY.

Dalam dua kalimat, KSP Moeldoko ditulis dengan penekanan yaitu dicetak tebal. Sebagai berikut: “… Apa yang disampaikan KSP Moeldoko tadi, merongrong semua pernyataan yang telah diucapkan sebelumnya.”

Dan dalam kalimat, “… atas kegiatan ilegal yang dilakukan KSP Moeldoko untuk memecah belah Partai Demokrat.”

Moeldoko adalah Kepala Staf Angkatan Darat ke-28 menggantikan Jenderal Pramono Edhie Wibowo di bawah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Mei-Agustus 2013. Pada Agustus itu, Presiden SBY mengangkat Moeldoko sebagai Panglima TNI ke-18 menggantikan Laksamana Agus Suhartono. Moeldoko duduk sebagai Panglima TNI selama dua tahun.

Di era Presiden Joko Widodo, Moeldoko masuk ke lingkaran Istana. Ia diangkat menjadi Kepala Staf Kantor Kepresidenan (KSP) menggantikan Teten Masduki pada 18 Januari 2018.Kepala KSP merupakan jabatan setingkat menteri yang bertugas memberikan dukungan kepada presiden dan wakil presiden dalam melaksanakan pengendalian prioritas nasional. program program, komunikasi politik, dan pengelolaan isu-isu strategis.

Lembaga strategis ini baru digelar di era Presiden Jokowi-Wakil Presiden Jusuf Kalla. Sebagai Ketua KSP pertama saat itu adalah Luhut Binsar Pandjaitan, yang kemudian masuk kabinet sebagai menteri, digantikan oleh Teten Masduki, seorang aktivis antikorupsi, yang juga kemudian terpilih menjadi menteri. Lalu masuk ke Moeldoko.

Jumat malam, giliran SBY yang berpidato terkait kisruh Partai Demokrat. Dalam naskah pidato SBY setebal 13 halaman yang dibagikan kepada pers, SBY juga menyebut Moeldoko sebagai ‘KSP Moeldoko’. Dia lebih sering menyebutnya ‘KSP Moeldoko’. Sebanyak 11 kali.

SBY mengawali penyebutan ‘KSP Moeldoko’ dalam kalimat, “KLB telah menobatkan KSP Moeldoko sebagai pejabat aktif pemerintah, yang ada di lingkaran kepresidenan, bukan kader Partai Demokrat alias partai eksternal, untuk menjadi ketua umum. Partai demokrat.”

Di halaman terakhir pidatonya, terakhir kali SBY menyebut KSP Moeldoko dalam kalimat, “Artinya KSP Moeldoko tidak memahami UU Parpol yang berlaku, juga tidak memahami AD & ART Partai Demokrat.”

Berbeda dengan naskah pidato AHY yang menekankan pada pengucapan KSP Moeldoko dengan huruf tebal dan kalimat, dalam naskah pidato SBY semua huruf dibuat dengan huruf kapital dan dicetak tebal.

Ada yang agak istimewa dalam pidato SBY di halaman tiga, yakni ketika SBY mengaitkan Moeldoko dengan prajurit TNI, karena baik TNI maupun SBY telah menunjuk Moeldoko sebagai Panglima dan Panglima TNI.

SBY menyebutnya, “Perjuangan kepemimpinan yang tidak terpuji, jauh dari kesatria dan nilai moral, serta hanya mempermalukan perwira dan prajurit yang pernah bertugas di jajaran TNI. Termasuk rasa malu dan rasa bersalah saya yang beberapa kali terjadi di masa lalu. berikan amanah dan keyakinan. kedudukan padanya. Aku mohon ampun kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, atas kesalahanku. ”

Sumber

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button