Berita

Nasib Kuburan Menteng Pulo, Romani & Kambing-kambing

Jakarta, CNN Indonesia —

Krisis pemakaman di ibu kota boleh jadi karena tata kelola yang tidak maksimal. Di sejumlah tempat pemakaman umum (TPU), makam-makam tua tak terurus berdiri bersisian dengan rumah-rumah penduduk.

Romani (60) tengah duduk di sisi kuburan China, TPU Menteng Pulo II, Jakarta Selatan, pagi itu. Ia menemani anaknya yang sedang beres-beres jajanan anak-anak.

Romani bukan seorang penjaga makam. Ia tinggal bersama suami, anak, dan cucunya di kawasan permakaman tersebut.

Rumahnya berdiri di antara makam-makam China yang sudah tak terawat. Persis di depan rumahnya, ada sepetak makam yang entah milik siapa.

Nisannya bertuliskan aksara mandarin yang mulai pudar. Bentuknya pun sudah tidak utuh dan hampir sejajar dengan tanah.

Sementara di sekitarnya, berjejer makam tua dengan nisan yang sudah rusak. Semak-semak tumbuh liar di antar batu-batu nisan yang retak dan penuh coretan tersebut.

Permakaman China tersebut dibangun pada 1947. Sementara Romani mulai menetap di kawasan tersebut sejak 1960. Sejak kecil dirinya sudah terbiasa melihat prosesi pemakaman Tionghoa.

“Sebelum saya lahir juga makamnya sudah ada,” kata Romani.

Meski rumahnya berdiri di atas makam tua, Romano mengaku memiliki tanahnya berdasarkan warisan orang tua. Ia juga rutin membayar iuran listrik dan RT/RW. Beberapa kali rumahnya juga dicek oleh kelurahan setempat, namun tidak pernah sekali pun diminta pindah, bahkan digusur paksa.

“Sejak di sini, rumah milik bapak saya, kemudian saya tempati bersama suami yang memulung,” ujarnya.

[Gambas:Video CNN]

CNNIndonesia.com mencatat ada belasan rumah baik yang permanen maupun semi permanen, yang berdiri bersisian dengan kuburan-kuburan tua kompleks pemakanan Tionghoa di TPU Menteng Pulo.

Tak jelas lagi batas antara makam dan pemukiman. Yang jelas, keberadaan rumah-rumah itu memakan cukup banyak lahan. Sekitar dua atau tiga kali lapangan futsal. Di tengah krisis lahan pemakaman, luasan lahan sekecil apapun dalam kompleks pemakaman, sesungguhnya sangat dibutuhkan.

Romani mengaku tidak tahu harus ke mana jika ia diminta pindah dari rumah yang telah ditempatinya selama 60 tahun tersebut. Ia yang hidup dengan seorang anak, seorang menantu, dan tiga orang cucu tersebut mengaku betah tinggal di area pemakaman tua tersebut.

“Pindah ke mana ya, sudah betah di sini aja,” kata Romani.

Ia juga mengaku agak enggan jika pemerintah memintanya pindah dan menempati rumah yang lebih laik. Perempuan yang dahulu bekerja sebagai tukang sapu jalanan di Ibu Kota itu beralasan, kepindahannya tidak lantas membuat perekonomiannya membaik.

“Kalau pindah, nanti di sana kerja apa, di sini kan bisa buka warung kopi, ya hidupnya begini aja,” ujarnya.

Warga lainnya, Ranti (23) juga mengaku sudah menempati pemukiman di makam tua tersebut sejak lahir. Ia tak pernah sekalipun pindah dari pusara orang Tionghoa dan Budha tersebut.

Namun berbeda dengan Romani, rumah semi permanen Ranti pernah digusur oleh pihak TPU karena menempati tanah makam.

“Kejadiannya tahun 2017 apa 2018, katanya ada keluarga pihak makam yang mau ziarah,” kata Ranti.

Namun ia dan keluarganya tak gentar. Setelah ziarah selesai, ia kembali membangun rumah semi permanen yang jaraknya masih berdekatan dengan makam tua tersebut.

“Ya dibangun lagi, bikin lagi rumahnya, orang TPU atau dinas datengnya kalau ada yang mau ziarah aja,” tutur Ranti dengan anak dipangkuannya.

Ada risiko ketika Ranti memilih tinggal bersisian dengan makam tua yang sudah ditumbuhi rumput dan tanaman liar. Tak jarang, ular melintasi pintu rumahnya saat siang hari.

Warga di sana juga memiliki beberapa hewan peliharaan, macam kawanan kambing kurus, ayam, hingga bebek. Hewan-hewan itu saban hari mencari makan di area kuburan tua tersebut.




Kuburan China yang tidak terurus di TPU Menteng Pulo II, Jakarta Selatan. (Foto: CNN Indonesia/ Melani Putri)

Di kuburan China lainnya, di Kebon Nanas, Jakarta Timur, pemandangan serupa juga tersaji.

Bersambung…


Cerita dari Kebon Nanas


BACA HALAMAN BERIKUTNYA


Source link

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button