Kilas Info Global

Novavax akan produksi 150 juta dosis vaksin COVID-19 per bulan

Kami akan memenuhi kapasitas produksi (vaksin, red) mulai Mei atau Juni, kemungkinan paling banyak (kami dapat memproduksi, red) 150 juta dosis per bulan untuk kebutuhan dunia

Jakarta (ANTARA) – Perusahaan farmasi asal Amerika Serikat, Novavax Inc, siap memproduksi lebih dari 150 juta dosis vaksin COVID-19 per bulan mulai Mei atau Juni 2021, kata Direktur Utama Novavax, Stanley Erck, Jumat (29/1).

Informasi itu disampaikan Erck satu hari setelah hasil sementara uji klinis di Inggris menunjukkan vaksin Novavax terbukti 89 persen efektif melawan SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19.

Uji klinis tahap III untuk vaksin Novavax diharapkan rampung dalam beberapa minggu ke depan, tetapi perusahaan telah memulai proses pembuatan vaksin agar dapat mengoptimalkan kapasitas produksi pabrik, kata Erck.

“Kami akan memenuhi kapasitas produksi (vaksin, red) mulai Mei atau Juni, kemungkinan paling banyak (kami dapat memproduksi, red) 150 juta dosis per bulan untuk kebutuhan dunia,” kata dia.

Saham Novavax pun langsung naik 65 persen jadi 221,27 dolar AS (sekitar Rp3,1 juta), Jumat.

Erck mengatakan kemungkinan pihaknya akan membutuhkan waktu beberapa minggu sebelum perusahaan mengajukan izin pakai darurat (EUA) vaksin ke beberapa negara-negara Eropa, Inggris, dan daerah lainnya. Dengan demikian, hasil lengkap uji klinis Novavax kemungkinan baru dapat diserahkan ke otoritas masing-masing negara dalam beberapa bulan ke depan.

Baca juga: Indonesia amankan 100 juta dosis vaksin COVID AstraZeneca, Novavax

Baca juga: Perusahaan India sudah produksi 40 juta dosis vaksin AstraZeneca

Novavax pada Kamis (28/1) menerbitkan hasil sementara uji klinis vaksinnya di Inggris. Menurut dokumen itu, vaksin buatan Novavax 83 persen mencegah COVID-19 dan vaksin itu diyakini masih cukup efektif melindungi warga dari varian baru COVID-19 yang mewabah di Inggris dan Afrika Selatan.

Erck menerangkan 16.000 relawan ikut serta dalam uji klinis vaksin Novavax di Amerika Serikat dan perusahaan akan berusaha menambah daftar peserta uji jadi 30.000 orang pada awal sampat pertengahan Februari 2021.

Peneliti dari perusahaan akan mengamati kesehatan dan kondisi tubuh para relawan selama enam minggu dan mengevaluasi hasil uji klinis, Erck menambahkan.

Evaluasi itu akan memeriksa hasil uji klinis vaksin di AS lebih dulu mengingat tujuan utama perusahaan adalah mencegah warga terserang COVID-19 dengan gejala penyakit sedang sampai berat. Jika sudah rampung, Novavax akan lanjut mengkaji efektivitas vaksin mencegah varian baru COVID-19.

AS melaporkan kasus pertama varian baru COVID-19 Afrika Selatan di South Carolina minggu ini.

Novavax telah meneken kontrak penjualan vaksin bersama AS, Kanada, dan Australia. Sejauh ini, perusahaan masih bernegosiasi dengan Uni Eropa untuk pembelian vaksin COVID-19, kata Erck.

Ia menambahkan perusahaan juga telah menyepakati perjanjian bersama Aliansi Vaksin Global (GAVI) untuk menyalurkan vaksin ke negara-negara miskin. Vaksin itu nantinya akan diproduksi oleh Serum Institute (SII) di India.

SII merupakan salah satu pembuat vaksin terbesar dunia.

Novavax berencana memproduksi dua miliar dosis vaksin COVID-19 per tahunnya.

Perusahaan akan mulai meningkatkan produksi vaksin pada Februari atau Maret 2021 atau kuartal II tahun ini, kata Erck. Ia menambahkan Novavax akan meningkatkan jumlah dosis vaksin yang diproduksi oleh SII bersama mitra lainnya di Korea Selatan dan Jepang.

Distribusi vaksin COVID-19 di Eropa terhambat masalah produksi mengingat beberapa produsen vaksin seperti AstraZeneca Plc dan Pfizer Inc mengumumkan mereka akan mengurangi jatah pengiriman vaksin ke wilayah tersebut.

Sumber: Reuters

Baca juga: Korsel dalam pembicaraan untuk beli 40 juta dosis vaksin Novavax

Baca juga: Pembelian vaksin AstraZeneca dan Novavax langkah awal akhiri pandemi

Penerjemah: Genta Tenri Mawangi
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Source link

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button