Berita

Pakar Kritik Jerat Hukum ke Pendiri Pasar Muamalah Zaim Saidi

Jakarta, CNN Indonesia —

Jeratan hukum terhadap pendiri Pasar Muamalah di Depok, Jawa Barat, Zaim Saidi menuai kritik pakar hukum pidana. Tafsir polisi yang mengartikan penggunaan dinar dan dirham sebagai pelanggaran pidana, menurut pakar hukum pidana Abdul Fickar Hadjar mengandung masalah.

Ia menjelaskan, maksud dari Pasal 9 Undang-undang nomor 1 tahun 1946 tentang Hukum Pidana tidak tepat digunakan untuk menjerat Zaim. Sebab Zaim, kata Fickar, hanya membuat atau memesan emas dari pihak PT Aneka Tambang (Antam).

“Tafsir ini berbahaya karena berapa banyak pusat perbelanjaan dan permainan yang menggunakan kupon atau semacam benda yang dapat dibayarkan,” ungkap Fickar saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (3/2).

Fickar merincikan bahwa aturan tersebut melarang penggunaan mata uang lain yang dibuat seolah-olah berlaku di Indonesia, selain rupiah. Sehingga, menurutnya pembuatan kupon atau bentuk barang lain untuk digunakan sebagai alat transaksi seharusnya tak menjadi masalah.

“Realitasnya, yang dibuat atau dipesan dari Antam adalah bayangan kecil emas yang diidentifikasikan sebagai mata uang dinar atau dirham,” tambah dia lagi.

Adapun bunyi dari Pasal 9 aturan tersebut ialah: “Barang siapa membikin benda semacam mata uang atau uang kertas dengan maksud untuk menjalankannya atau menyuruh menjalankannya sebagai alat pembayaran yang sah, dihukum dengan hukuman penjara setinggi-tingginya lima belas tahun.

Fickar menuturkan, jeratan sangkaan kedua pada Pasal 33 Undang-undang nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang juga patut diperdebatkan.

Pertama, papar dia, kepingan emas yang kemudian digunakan sebagai koin transaksi tersebut tidak diidentifikasikan sebagai produk yang dikeluarkan oleh suatu negara, sehingga memiliki seri mata uang. Menurut Fickar, untuk menerapkan pasal sangkaan ini, perlu dipastikan apakah nilai tukar kepingan emas itu selaras dengan bobot produk tersebut di pasaran.

“Jika benda yang disebut Dirham itu bukan produk negara yang mengeluarkan, maka ZS tidak bisa disangka dengan ketentuan ini,” ucap dia.

Kemudian, Fickar menyangsikan ada kepentingan publik yang terusik usai perdagangan menggunakan koin dinar dan dirham itu terjadi. Dia pun menerangkan, jika masyarakat yang membeli tidak merasa dirugikan maka tidak perlu ditarik ke ranah pidana.

Fickar menekankan, jeratan pasal berpotensi gugur apabila tidak ada kepentingan umum yang dilanggar. Dalam hal ini, dia merujuk pada penggunaan mata uang asing dalam bertansaksi di Indonesia.

“Realitasnya, belum tentu yang disebut dinar itu masuk kualifikasi sebagai mata uang,” kata dia.

“Jika ada masyarakat yang membeli merasa dirugikan, itu namanya penipuan. Jika tidak ada yang dirugikan dan tidak ada yang menuntut, itu masuk pada ranah perdata perjanjian biasa,” jelasnya lagi menutup perbincangan.

Terpisah, Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Polri Kombes Ahmad Ramadhan menekankan bahwa penyidik telah berhati-hati dalam mengusut kasus tersebut. Dia meyakinkan bahwa kepolisian telah memastikan peristiwa itu memenuhi unsur-unsur pidana sebelum menangkap tersangka.

Tapi Ramadhan enggan menyebut para pembeli dari koin dinar dan dirham itu sebagai korban. Dia hanya menerangkan dengan kembali mengacu pada poin undang-undang yang menyebut soal pembuatan dan penggunaan barang di luar rupiah sebagai alat transaksi.

“Nah logam tersebut dinar atau dirham itu digunakan sebagai alat untuk transaksi jual beli. Sehingga di situ penyidik memastikan memenuhi unsur-unsur pidananya,” tutur dia.

Ramadhan pun mengatakan kasus ini baru terungkap meski telah beroperasi sejak 2014. Ia beralasan aktivitas tersebut sukar diendus aparat kepolisian karena pasar hanya buka pada waktu-waktu tertentu.

Karena itu kata dia, keberadaan Pasar Muamalah baru terdeteksi usai viral pada 28 Januari 2021. Penyidik pun melakukan pendalaman terhadap kasus hingga melakukan penindakan.

“Pasar ini cuma 2 jam sampai 4 jam. Awalnya juga di komunitas dia, sekarang seiring dengan berjalannya waktu ya pedagangnya 10 sampai 15. Nah, karena penggunaan koin kan nggak begitu ketahuan amat, gitu kan,” kata Ramadhan.

(mjo/nma)

[Gambas:Video CNN]


Source link

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button