Kilas Info Nasional

Quantitative Easing & Pengaruhnya pada…

loading…

JAKARTA – Kita mungkin sering mendengar istilah Quantitative Easing . Meskipun terdengar rumit, istilah ini perlu dipahami oleh investor karena sedikit banyak mempengaruhi sentimen di pasar saham.

Senior Analyst MNC Sekuritas Victoria Venny menjelaskan Quantitative Easing (QE) merupakan pelonggaran likuiditas dalam bentuk kebijakan moneter. Pada kebijakan ini, bank sentral membeli surat berharga jangka panjang untuk meningkatkan jumlah uang beredar dan mendorong pinjaman serta investasi. “Tujuan dari kebijakan ini adalah untuk menciptakan inflasi dan mencegah risiko deflasi,” paparnya di Jakarta, Rabu (20/1/2021).

Baca Juga: Cek Website MNC Bank, Ada Nama 30 Pemenang Tabungan Dahsyat!

Di Jepang, Quantitative Easing pertama kali diterapkan oleh Bank of Japan (BoJ) pada tahun 2001-2006. Pada saat itu, perekonomian Jepang hanya tumbuh 0,1% pada kuartal IV 2001. BoJ membeli surat-surat berharga negara agar perbankan dapat menyalurkan kredit ke masyarakat. Butuh waktu 5 tahun untuk ekonomi Jepang dapat kembali normal.

Di belahan benua lain yaitu Amerika Serikat, terjadi krisis keuangan global pada tahun 2008. Kebijakan Quantitative Easing kemudian diadopsi oleh Bank Sentral Amerika The Fed, dengan membeli surat utang dari lembaga pembiayaan kredit properti. Namun, Amerika Serikat membutuhkan 9 tahun untuk dapat mengembalikan keadaan ekonominya seperti semula.

Lantas, bagaimana penerapan Quantitative Easing di Indonesia? Contoh penerapan kebijakan ini di Tanah Air ialah saat ekonomi Indonesia terdampak pandemi COVID-19 tahun lalu. Salah satu jenis kebijakan Quantitative Easing yang dilakukan oleh Bank Indonesia adalah pembelian Surat Berharga Negara (SBN) yang dilepas asing di pasar sekunder. Lebih lanjut menurut Venny, QE menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan peredaran uang tanpa harus menurunkan suku bunga lebih rendah.

Baca Juga: Apresiasi Kinerja Mitra, MNC Finance Beri Hadiah Mobil di Elite Agent Awarding Day

“Di Indonesia, QE juga mendorong likuiditas perbankan dan memang terbukti bahwa Bank Indonesia tidak perlu menurunkan suku bunga terlalu dalam tahun lalu, sementara perekonomian juga ditopang oleh QE yang hampir IDR700 triliun karena tanpa QE pertumbuhan bisa di bawah estimasi. Pasar biasanya merespon positif akan kebijakan QE,” jelas Venny.

MNC Sekuritas sebagai bagian dari unit usaha PT MNC Kapital Indonesia Tbk (BCAP) yang berada di bawah naungan MNC Group, aktif memberikan ulasan dan perkembangan terbaru mengenai pasar modal. Saksikan program Morning Meeting oleh tim riset MNC Sekuritas setiap hari Senin sampai Jumat pada pukul 08.15 – 08.45 WIB melalui YouTube Live di channel MNC Sekuritas. Subscribe sekarang!

(nng)

Source link

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button